Yayasan Cahaya Keluarga Madani
Oleh Husnul Khatimah
Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani
Beberapa hari menjelang Nonton Bareng Film Istimewa, kami para Guru Pendamping Khusus (GPK) dari berbagai sekolah bertemu di Cinepolis QMall Banjarbaru.
Pertemuan itu sebenarnya sangat teknis. Kami ingin memastikan segala sesuatu berjalan baik ketika hari pelaksanaan tiba—terutama bagi anak-anak yang akan hadir bersama pendamping dan keluarganya.
Namun, di tengah pembicaraan tentang tempat, alur kegiatan, pendampingan, dan berbagai kebutuhan anak, saya kembali menyadari satu hal:
kepedulian terhadap anak dimulai bahkan sebelum anak itu tiba di tempat kegiatan.
Kita perlu memikirkan apakah ia dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman. Apakah kebutuhannya dipahami. Apakah pendampingnya mengetahui apa yang harus dilakukan. Apakah lingkungan yang kita siapkan cukup aman dan ramah baginya.

Hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil, bagi anak dan keluarganya dapat menentukan apakah sebuah pengalaman menjadi menyenangkan atau justru melelahkan.
Kami berasal dari sekolah yang berbeda. Pengalaman kami dalam mendampingi anak juga tidak selalu sama. Namun, ada satu kepedulian yang mempertemukan kami: setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk belajar, mengalami hal-hal baru, berpartisipasi, dan menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Perjumpaan itu kemudian membawa percakapan kami ke ruang yang lebih luas.
Kami diterima oleh Asisten II Pemerintah Kota Banjarbaru dalam sebuah audiensi untuk bertukar pikiran mengenai bagaimana berbagai pihak dapat bekerja bersama dalam memberikan layanan yang lebih baik bagi anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, serta keluarga yang membersamai mereka.
Yang menarik, pembicaraan tidak berhenti pada penyelenggaraan nonton bareng.
Kami justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana menghubungkan orang-orang yang berpikir, orang-orang yang menentukan kebijakan, dan mereka yang setiap hari bekerja langsung bersama anak dan keluarga. Sebab masing-masing melihat persoalan dari tempat yang berbeda.

Akademisi dan pemikir dapat membantu membaca persoalan dan menawarkan pendekatan berbasis pengetahuan. Pemerintah memiliki kewenangan untuk membangun kebijakan, mengoordinasikan layanan, dan mengarahkan sumber daya. Sekolah, guru, GPK, tenaga profesional, dan komunitas berhadapan langsung dengan realitas di lapangan.
Tetapi ada satu suara yang tidak boleh hilang di antara semua itu: suara anak dan keluarganya sendiri.
Kita dapat memiliki banyak gagasan tentang apa yang baik bagi mereka. Namun, layanan yang baik seharusnya tidak hanya dirancang untuk anak dan keluarga.
Ia perlu dibangun bersama mereka.
Karena merekalah yang paling memahami bagaimana rasanya menjalani keseharian, menghadapi hambatan, mencari layanan, merayakan perkembangan kecil, sekaligus memikirkan masa depan.
Ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya ketika berbicara tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Kita sering sangat serius memikirkan bagaimana anak belajar hari ini.
Bagaimana ia mengikuti pembelajaran. Bagaimana ia beradaptasi di kelas. Bagaimana kurikulum disesuaikan. Bagaimana guru mendampinginya.
Semua itu penting.
Tetapi anak tidak selamanya berada di ruang kelas.
Suatu hari ia akan bertambah usia. Ia akan memasuki lingkungan yang lebih luas. Ia akan berhadapan dengan kehidupan yang mungkin tidak selalu memiliki guru atau GPK di sampingnya.
Karena itu, pembicaraan mengenai layanan bagi anak berkebutuhan khusus tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana anak ini dapat mengikuti sekolah?”
Kita juga perlu berani bertanya:
“Kehidupan seperti apa yang sedang kita persiapkan untuknya?”
Apakah ia memiliki kesempatan untuk berkembang?
Apakah kemandiriannya dibangun sesuai kemampuan dan kebutuhan dukungannya?
Apakah ia memiliki ruang untuk berpartisipasi?
Apakah ketika dewasa kelak ia tetap dapat menjalani kehidupan yang bermartabat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh sekolah seorang diri.

Ketika berbicara tentang anak berkebutuhan khusus, perhatian kita mudah sekali terpusat kepada anak.
Padahal di samping anak ada ayah, ibu, saudara, dan keluarga yang juga menjalani perjalanan panjang.
Mereka mencari informasi.
Mengantar terapi.
Berkomunikasi dengan sekolah.
Mempelajari perilaku anak.
Mengambil keputusan.
Menghadapi komentar lingkungan.
Mencari layanan.
Dan pada saat yang sama, mereka tetap harus menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kesejahteraan keluarga tidak boleh ditempatkan sebagai persoalan tambahan. Ia merupakan bagian dari ekosistem dukungan terhadap anak.
Keluarga membutuhkan informasi yang mudah dipahami, akses terhadap layanan, lingkungan yang menerima, serta ruang untuk menyampaikan apa yang mereka alami.
Mereka tidak semestinya berjalan sendirian dari satu pintu layanan ke pintu berikutnya tanpa mengetahui ke mana harus melangkah.
Di sinilah kerja lintas pihak menjadi penting.
Bukan sekadar menghadirkan banyak logo dalam sebuah kegiatan.
Bukan pula sekadar membuat semakin banyak orang duduk dalam satu ruangan.
Kolaborasi baru memiliki arti ketika dukungan yang sebelumnya terpisah mulai terhubung dan benar-benar dapat dirasakan oleh anak serta keluarganya.
Mungkin ada yang bertanya: di tengah persoalan sebesar itu, mengapa justru mengajak orang menonton film?
Karena kami tidak sedang menempatkan film sebagai jawaban atas seluruh persoalan.
Kami tidak menganggap satu kali menonton akan serta-merta mengubah cara pandang seseorang.
Kami juga tidak berharap sebuah ruang bioskop dapat menyelesaikan persoalan layanan, pendidikan, penerimaan sosial, atau masa depan penyandang disabilitas.
Tetapi sebuah film dapat membuka sesuatu yang sangat penting:
percakapan.
Film dapat membawa kita memasuki pengalaman yang mungkin tidak pernah kita jalani sendiri.
Ia dapat membuat seseorang berhenti sejenak.
Melihat.
Mendengar.
Bertanya.
Dan mungkin, setelah keluar dari ruang bioskop, memandang sebuah persoalan dengan sedikit lebih banyak pemahaman daripada sebelumnya.
Karena itulah Nonton Bareng Film Istimewa kami tempatkan sebagai sebuah pintu masuk.
Melalui kolaborasi Yayasan Cahaya Keluarga Madani bersama Pokja Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kementerian Agama Kota Banjarbaru, kami berharap ruang ini dapat mempertemukan anak, keluarga, pendidik, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Bukan untuk mengatakan bahwa kita telah memiliki semua jawabannya.
Justru untuk mengakui bahwa ada banyak hal yang perlu kita pikirkan dan kerjakan bersama.
Ada kata yang sangat mudah kita ucapkan ketika berbicara tentang anak: cinta.
Namun pendidikan berbasis cinta tidak cukup berhenti sebagai gagasan yang indah.
Cinta perlu memiliki bentuk.
Ia hadir dalam cara kita menyambut seorang anak.
Dalam kesediaan memahami kebutuhannya sebelum menilai perilakunya.
Dalam cara guru menyesuaikan pembelajaran.
Dalam keberanian orang tua menyampaikan kebutuhan anaknya.
Dalam kebijakan yang membuka akses.
Dalam masyarakat yang memberikan ruang untuk berpartisipasi.
Dan terkadang, cinta hadir dalam sesuatu yang sangat sederhana: kesediaan untuk mendengarkan pengalaman yang berbeda dari pengalaman kita sendiri.
Sebagai bagian dari Yayasan Cahaya Keluarga Madani, yang menaungi SD Islam Al Madani dan RA Ulumul Quran Al Madani, pengalaman membersamai pendidikan inklusif membuat saya semakin memahami bahwa penerimaan saja belum cukup.
Anak perlu diterima, tetapi ia juga perlu didukung untuk berkembang.
Keluarga perlu didengar, tetapi mereka juga perlu dihubungkan dengan dukungan yang dibutuhkan.
Guru perlu memiliki kepedulian, tetapi kepedulian itu juga perlu diperkuat dengan pengetahuan dan kolaborasi.
Dan pemerintah tidak mungkin mengerjakannya sendirian.
Begitu pula sekolah.
Begitu pula keluarga.
Pertemuan para GPK di Cinepolis dan audiensi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru memberi saya satu pengingat penting:
kepedulian perlu menemukan jalannya menuju tindakan.
Kepedulian perlu bertemu dengan pengetahuan.
Pengetahuan perlu terhubung dengan kebijakan.
Kebijakan perlu dapat dilaksanakan di lapangan.
Dan praktik di lapangan perlu terus mendengarkan pengalaman anak serta keluarganya.
Besok, ketika lampu ruang bioskop diredupkan dan Film Istimewa mulai diputar, mungkin kami akan duduk di kursi yang berbeda-beda.
Ada anak.
Ada orang tua.
Ada guru.
Ada GPK.
Ada pemerintah.
Ada komunitas.
Ada masyarakat.
Tetapi mudah-mudahan ketika lampu kembali menyala, kita membawa pulang pertanyaan yang sama:
“Setelah ini, apa yang dapat kita kerjakan bersama?”
Sebab harapan terbesar kami bukanlah agar perjumpaan ini selesai dengan tepuk tangan ketika film berakhir.
Kami berharap ia menjadi awal dari percakapan yang berlanjut, hubungan yang semakin kuat, dan kerja bersama yang manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh anak serta keluarganya.
Setiap anak berharga. Setiap keluarga bermakna. Dan kepedulian kita perlu menemukan jalannya menjadi dukungan yang nyata.

Leave a Comment