Nonton Bareng Film Istimewa di Banjarbaru, Membuka Ruang Perjumpaan untuk Memahami Inklusi
Banjarbaru – Ada yang berbeda di Cinema 4 Cinepolis QMall Banjarbaru pada Kamis, 17 September 2026. Ruang bioskop tidak hanya menjadi tempat menikmati sebuah film, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi anak, keluarga, pendidik, penyandang disabilitas, komunitas, dan berbagai unsur masyarakat untuk bersama-sama melihat lebih dekat makna penerimaan dan inklusi.
Melalui kegiatan Nonton Bareng Film Istimewa, Yayasan Cahaya Keluarga Madani bersama Pokja Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kementerian Agama Kota Banjarbaru menghadirkan kegiatan bertajuk “Menonton, Memahami, dan Bertumbuh dalam Inklusi.”
Kegiatan dimulai pukul 10.00 WITA dan menjadi bagian dari upaya membuka ruang yang lebih luas untuk membicarakan keberagaman, penerimaan, serta kehidupan anak dan keluarga yang membutuhkan dukungan dari lingkungan di sekitarnya.
Ketika Bioskop Menjadi Ruang Bersama
Sejak sebelum kegiatan dilaksanakan, persiapan tidak hanya berfokus pada teknis pemutaran film. Perhatian juga diberikan pada kenyamanan peserta, terutama anak-anak yang hadir bersama orang tua maupun pendamping.
Guru Pendamping Khusus (GPK) dari berbagai sekolah turut terlibat dalam persiapan agar kebutuhan anak selama kegiatan dapat diantisipasi dengan lebih baik.
Hal tersebut sejalan dengan semangat yang dibawa dalam kegiatan ini: setiap anak berhak diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bersama.
Kehadiran peserta dari beragam latar belakang membuat kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda menonton film. Dalam satu ruang, orang-orang dengan pengalaman yang berbeda dapat berbagi pengalaman yang sama—menonton, merasakan, dan kemudian membawa pulang pemikiran masing-masing mengenai inklusi.
Film sebagai Pintu Masuk untuk Memahami
Pemilihan Film Istimewa bukan dimaksudkan untuk menjadikan sebuah film sebagai jawaban atas kompleksnya persoalan pendidikan inklusif maupun kehidupan penyandang disabilitas.
Film justru ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membangun pemahaman dan percakapan.
Melalui cerita yang disaksikan bersama, peserta diajak melihat bahwa setiap individu memiliki pengalaman, kebutuhan, kemampuan, serta tantangannya masing-masing.
Bagi Yayasan Cahaya Keluarga Madani, pengalaman menonton bersama menjadi penting ketika setelahnya muncul kesediaan untuk mendengar lebih banyak, memahami pengalaman yang berbeda, dan melihat bahwa inklusi membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Menonton adalah awal. Memahami adalah proses. Sedangkan inklusi membutuhkan keberanian kita untuk bertumbuh dan bekerja bersama.”
Tidak Hanya Anak, tetapi Juga Keluarga
Salah satu semangat yang terus dibawa dalam kegiatan ini adalah bahwa pembicaraan mengenai anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas tidak dapat dipisahkan dari keluarga.
Di belakang perjalanan seorang anak terdapat orang tua dan keluarga yang setiap hari membersamai proses tumbuh kembangnya, mencari informasi, berkomunikasi dengan sekolah, mengakses layanan, serta memikirkan masa depan anak.
Karena itu, ruang inklusif tidak cukup hanya menghadirkan anak.
Keluarga juga perlu didengar, dipahami, dan memperoleh akses terhadap jejaring dukungan yang dibutuhkan.
Hal yang sama berlaku bagi sekolah. Guru, wali kelas, dan GPK membutuhkan kolaborasi dengan keluarga, tenaga profesional, komunitas, serta pemerintah agar dukungan kepada anak tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dari Kurikulum Berbasis Cinta Menuju Praktik
Kolaborasi bersama Pokja Kurikulum Berbasis Cinta Kementerian Agama Kota Banjarbaru turut memberi makna tersendiri pada kegiatan ini.
Nilai cinta dalam pendidikan tidak hanya perlu hadir dalam materi atau konsep, tetapi juga diterjemahkan dalam tindakan: bagaimana anak disambut, bagaimana perbedaan dipahami, bagaimana kebutuhan seseorang dihargai, serta bagaimana ruang partisipasi dibuka seluas mungkin sesuai kemampuan dan kebutuhan dukungannya.
Bagi Yayasan Cahaya Keluarga Madani, yang menaungi SD Islam Al Madani dan RA Ulumul Qur'an Al Madani, semangat tersebut sejalan dengan perjalanan membangun lingkungan pendidikan yang semakin inklusif.
Penerimaan menjadi langkah awal. Setelah itu masih ada pekerjaan untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, membangun kemandirian, dan berpartisipasi secara bermakna.
Film Selesai, Percakapan Jangan Berhenti
Ketika lampu bioskop kembali menyala dan Film Istimewa selesai diputar, kegiatan menonton memang berakhir.
Namun, pesan yang ingin dibawa justru dimulai dari sana.
Nonton Bareng Film Istimewa diharapkan menjadi salah satu ruang perjumpaan yang membuka percakapan lebih panjang antara keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan masyarakat mengenai bagaimana lingkungan yang lebih inklusif dapat dibangun bersama.
Sebab inklusi tidak lahir dari satu kegiatan.
Ia tumbuh dari banyak perjumpaan, percakapan, perubahan kecil, dan kerja yang dilakukan secara konsisten.
Yayasan Cahaya Keluarga Madani menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam kegiatan ini—baik sebagai peserta, pendamping, mitra, maupun pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan.
Semoga kebersamaan yang bermula dari sebuah ruang bioskop ini dapat terus menemukan bentuknya dalam tindakan nyata di sekolah, keluarga, komunitas, dan kehidupan masyarakat.
Film boleh selesai diputar. Namun kepedulian tidak seharusnya ikut berhenti ketika layar menjadi gelap.
Setiap anak berharga. Setiap keluarga bermakna. Dan setiap kita dapat mengambil bagian dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif.
Leave a Comment