Perkuat Karakter Islam dan Mutu Akademik, SD Islam Al Madani Gelar Rapat Kerja Bidang Mata Pelajaran Keagamaan
BANJARBARU, 17 Oktober 2026 — SD Islam Al Madani Banjarbaru menggelar Rapat Kerja Bidang Mata Pelajaran Keagamaan dengan mengusung tema “Sinergi Penguatan Karakter Islam dan Mutu Akademik Berbasis Integrasi Kurikulum Keagamaan.”
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan koordinasi bagi para pendidik untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran keagamaan sekaligus merumuskan langkah perbaikan yang lebih terarah, khususnya dalam mengembangkan pembelajaran Al-Quran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan murid.
Rapat kerja tersebut membahas sejumlah agenda utama, meliputi evaluasi pembelajaran mata pelajaran keagamaan, penyegaran (refreshment) pendekatan pembelajaran, penerapan diferensiasi bagi murid yang membutuhkan pendampingan, penyusunan scaffolding, serta perencanaan dukungan Yayasan Cahaya Keluarga Madani terhadap pengembangan pembelajaran Al-Quran.
Evaluasi Pembelajaran sebagai Dasar Perbaikan
Evaluasi pembelajaran menjadi salah satu fokus utama rapat kerja. Melalui kegiatan ini, para pendidik diajak meninjau kembali proses pembelajaran keagamaan yang telah berjalan, termasuk pendekatan yang digunakan, tantangan yang dihadapi, serta kebutuhan penguatan dalam pelaksanaannya.
Evaluasi tidak hanya diarahkan pada pencapaian hasil belajar, tetapi juga pada bagaimana proses pembelajaran mampu menumbuhkan pemahaman, kebiasaan baik, dan karakter Islami dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah memandang bahwa mutu pembelajaran keagamaan perlu dibangun melalui keseimbangan antara penguasaan materi, keterampilan praktik ibadah, pembiasaan akhlak, dan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
Diferensiasi Pembelajaran dan Pendampingan yang Lebih Terarah
Salah satu perhatian penting dalam rapat kerja adalah kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih responsif terhadap keberagaman kemampuan murid.
Dalam pembelajaran Al-Quran, setiap anak dapat memiliki kesiapan, kecepatan belajar, dan kebutuhan pendampingan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pembelajaran perlu memberikan ruang bagi murid untuk berkembang sesuai kemampuan dan tahapan belajarnya.
Melalui penyegaran pemahaman tentang diferensiasi pembelajaran, para guru didorong untuk menyesuaikan strategi, aktivitas, serta bentuk dukungan agar setiap murid memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa memberikan layanan pendidikan yang adil tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama, melainkan menyediakan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Scaffolding: Membangun Tahapan Belajar yang Terjangkau
Rapat kerja juga menempatkan penyusunan scaffolding atau bantuan belajar bertahap sebagai bagian penting dalam penguatan proses pembelajaran.
Melalui pendekatan ini, guru dapat merancang langkah-langkah pembelajaran yang lebih sederhana dan terstruktur, memberikan contoh serta bimbingan sesuai kebutuhan, kemudian secara bertahap mengurangi bantuan seiring meningkatnya kemampuan dan kemandirian murid.
Dalam konteks pembelajaran Al-Quran, scaffolding dapat diterapkan melalui pengenalan huruf hijaiyah, latihan pelafalan, penggabungan bunyi, hingga peningkatan kelancaran membaca sesuai kemampuan awal masing-masing murid.
Dengan demikian, pendampingan tidak semata-mata bertujuan membantu anak menyelesaikan tugas belajar, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian dalam proses belajarnya.
Yayasan Siapkan Dukungan Pengembangan Pembelajaran Al-Quran
Selain penguatan strategi pembelajaran di tingkat guru, rapat kerja turut membahas rencana dukungan Yayasan Cahaya Keluarga Madani terhadap pengembangan pembelajaran Al-Quran di lingkungan sekolah.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pembelajaran yang lebih terarah dan berkelanjutan, dengan memperhatikan kebutuhan pendidik, karakteristik murid, serta mutu pelaksanaan program.
Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, Husnul Khatimah, menekankan pentingnya menempatkan kebutuhan belajar anak sebagai pertimbangan utama dalam setiap pengembangan program pendidikan.
Pembelajaran Al-Quran diharapkan tidak hanya berorientasi pada capaian kemampuan membaca, tetapi juga menjadi pengalaman belajar yang menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Quran, rasa percaya diri, ketekunan, dan kedekatan anak dengan nilai-nilai Islam.
Karena itu, penguatan kompetensi guru, perencanaan pendampingan, serta evaluasi yang berkelanjutan menjadi bagian yang perlu dikembangkan secara bersama antara sekolah dan yayasan.
Membangun Pembelajaran Keagamaan yang Penuh Cinta
Melalui rapat kerja ini, SD Islam Al Madani menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan keagamaan yang memadukan penguatan karakter Islam dengan mutu akademik.
Sekolah berharap hasil evaluasi dan pembahasan dapat ditindaklanjuti menjadi langkah nyata dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pendampingan pembelajaran.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai Pendidikan Penuh Cinta, yang menempatkan setiap anak sebagai pribadi yang memiliki potensi, kebutuhan, dan proses perkembangan yang patut dihargai.
Sebab keberhasilan pendidikan Al-Quran bukan hanya tentang seberapa cepat seorang anak mampu membaca, tetapi juga tentang bagaimana ia dibimbing dengan sabar, memperoleh dukungan yang tepat, dan tumbuh mencintai setiap proses belajarnya.
Leave a Comment