Yayasan Cahaya Keluarga Madani
Banjarbaru – Membuka akses pendidikan ternyata bukan akhir dari sebuah perjalanan. Setelah seseorang memperoleh kesempatan belajar, pekerjaan berikutnya adalah memastikan pembelajaran tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan perkembangan dirinya.
Prinsip inilah yang mendasari Yayasan Cahaya Keluarga Madani (YCKM) menggelar case conference pertama untuk mengevaluasi pendampingan belajar Nida, seorang perempuan Tuli yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan.
Case conference dilaksanakan secara daring pada 24 September 2026 pukul 14.00 WITA bersama Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, Husnul Khatimah, serta dua guru yang selama ini mendampingi proses belajar Nida.
Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pendampingan yang telah dilakukan setelah YCKM membantu keluarga Nida memperoleh akses terhadap layanan pendidikan nonformal.
Perjalanan Nida menjadi pengingat bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tidak selalu datang pada waktu yang sama bagi setiap orang.
Nida belum pernah memperoleh pengalaman bersekolah secara formal. Dalam kesehariannya, komunikasi banyak berlangsung menggunakan isyarat yang berkembang di lingkungan keluarga. Ketika akses pendidikan mulai terbuka, pendampingan kemudian diarahkan pada kemampuan yang dekat dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
YCKM bersama guru pendamping menyusun proses pembelajaran secara bertahap dengan fokus pada literasi, numerasi, komunikasi fungsional, serta pengembangan kemampuan berbahasa isyarat.
Pendekatan tersebut tidak diarahkan untuk mengejar ketertinggalan secara tergesa-gesa, melainkan membangun kemampuan dari kondisi aktual Nida.
Karena dalam pendidikan, terutama ketika mendampingi individu dengan kebutuhan belajar yang sangat beragam, pertanyaan pentingnya bukan semata-mata “Seharusnya sudah sampai mana?”, melainkan “Dari titik tempat ia berada sekarang, langkah bermakna berikutnya apa?”
Case conference pertama ini dilaksanakan untuk mempertemukan hasil pengamatan kedua guru pendamping dengan perencanaan program yang telah disusun.
Forum tersebut memiliki beberapa tujuan utama: mengevaluasi perkembangan Nida sejak pendampingan dimulai, mengidentifikasi kemampuan yang mulai berkembang maupun yang masih memerlukan dukungan, menyamakan persepsi antarguru pendamping, mengevaluasi strategi dan media pembelajaran, serta menyusun prioritas pembelajaran untuk tahap berikutnya.
Pembahasan tidak hanya berorientasi pada apa yang belum dapat dilakukan Nida. Kemampuan yang sudah muncul dan kemajuan kecil yang terjadi selama proses pembelajaran juga menjadi bagian penting dari evaluasi.
Hal tersebut diperlukan agar program berikutnya dibangun berdasarkan kemampuan aktual, bukan berdasarkan asumsi mengenai apa yang seharusnya dapat dilakukan seseorang pada usia tertentu.
Pendampingan belajar Nida dirancang dengan pendekatan fungsional.
Dalam literasi, misalnya, pembelajaran diarahkan pada pengenalan dan penggunaan huruf, pengembangan kosakata, membaca atau menulis informasi sederhana, serta membangun kalimat yang dapat digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Numerasi pun tidak semata-mata ditempatkan sebagai latihan hitung di atas kertas. Kemampuan mengenali angka, jumlah, nilai, waktu, maupun konsep lain yang dekat dengan aktivitas keseharian dapat menjadi bagian dari proses membangun kemandirian.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan belajar tidak hanya dilihat dari banyaknya materi yang berhasil diselesaikan, tetapi dari seberapa jauh kemampuan baru dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Aspek komunikasi mendapat perhatian khusus dalam pendampingan.
Sebagai individu Tuli, akses terhadap komunikasi merupakan bagian penting dari kesempatan Nida untuk belajar, menyampaikan kebutuhan, membuat pilihan, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Karena itu, pembelajaran bahasa isyarat tidak dipandang hanya sebagai salah satu materi dalam jadwal belajar.
Ia merupakan jembatan menuju akses informasi dan partisipasi yang lebih luas.
Pendampingan juga perlu memperhatikan bentuk komunikasi yang selama ini telah digunakan Nida, kemudian secara bertahap memperluas kosakata dan kemampuan komunikasinya melalui bahasa isyarat serta tulisan.
Kehadiran dua guru pendamping membuat koordinasi menjadi bagian yang sangat penting.
Setiap guru dapat melihat respons Nida dari situasi pembelajaran yang berbeda. Melalui case conference, pengamatan tersebut dapat dipertemukan sehingga strategi yang diberikan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Apa yang efektif dapat dipertahankan. Strategi yang belum sesuai dapat diperbaiki. Target yang terlalu tinggi dapat disederhanakan, sedangkan kemampuan yang telah berkembang dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Dengan demikian, case conference tidak berhenti sebagai forum untuk “membicarakan kasus”, tetapi menjadi ruang pengambilan keputusan bersama mengenai dukungan yang paling relevan bagi pembelajar.
Bagi Yayasan Cahaya Keluarga Madani, pendampingan Nida membawa pesan yang lebih luas mengenai hak untuk belajar.
Tidak semua orang memiliki perjalanan pendidikan yang sama. Ada yang memperoleh akses sejak usia dini, sementara sebagian lainnya baru menemukan kesempatan belajar ketika telah memasuki usia dewasa.
Perbedaan perjalanan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan.
Justru ketika pendidikan formal belum dapat diakses, perlu dicari alternatif yang memungkinkan seseorang tetap belajar melalui jalur nonformal, pendampingan individual, keluarga, komunitas, maupun jejaring layanan lainnya.
Yang terpenting adalah proses belajar memiliki tujuan yang jelas, dilakukan secara bermartabat, menghargai cara berkomunikasi individu, serta dievaluasi berdasarkan perkembangan nyata.
Case conference 24 September 2026 menjadi langkah awal untuk memastikan prinsip tersebut tetap terjaga dalam perjalanan belajar Nida.
Ke depan, evaluasi serupa dapat dilakukan secara berkala dengan pencatatan perkembangan yang lebih terstruktur sehingga perubahan pada kemampuan literasi, numerasi, komunikasi, bahasa isyarat, dan kemandirian fungsional dapat terlihat dari waktu ke waktu.
Bagi YCKM, perjalanan ini mungkin dimulai dari satu orang. Namun, pengalaman mendampingi Nida kembali mengingatkan bahwa akses terhadap pendidikan tidak seharusnya berhenti hanya karena seseorang telah melewati usia sekolah.
Belajar tidak selalu dimulai pada usia yang sama. Yang terpenting adalah ketika kesempatan itu akhirnya terbuka, kita tidak kembali menutup pintunya.

Leave a Comment